Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Takut Telanjang

"Aku tak mau membuka baju mereka, biar mereka tak telanjang. Karena itu yang kutakutkan. Takut telanjang?"
***

Aku. Jakarta. Tanah air. Flores. Indonesia. Yah aku bingung Kawan? Aku bisa ada dimana-mana. Aku bisa berada di tempat yang berbeda. Tapi aku masi ingat aku lahir dari setetes sperma, dengan satu sel yang harus melebur dengan satu ovum. Aku adalah satu. Lahir dari rahim yang satu. Aku lahir pada dunia yang satu pula.Yah. aku sedang sendiri dan hanya diri aku.

Tetapi aku mengalami sebuah kebebasan. Itu sejatinya aku. Manusia merdeka. Yang lahir dari satu rahim itu. Sebelum kemudian berbagai baju kupakai. Baju Budaya, Baju Agama, Baju Kewarganegaraan, Baju Suku, dan banyak lagi. Ada berbagai tawaran kepadaku. Kalau seandainya boleh memilih mungkin aku tidak memakai baju yang kupakai sekarang.

Tetapi ya, aku sudah nyaman. Aku sudah nyaman memakai baju-baju itu. Ketika aku sudah nyaman aku merasa candu. Aku bangga dengan baju-baju itu dan aku tak mau lepas. Aku merasa diriku lebih tampan, nyaman, bahagia, dan menemukan diriku. Makanya sesekali ketika aku mau telanjang dan mau menanggalkan baju-baju itu aku merasa malu. Aku merasa seperti bukan diriku.

Ah..karena itulah ketika aku menemukan saudara-saudaraku yang memakai baju bahkan sangat berbeda dariku. Aku melihat mereka tampan-tampan dan cantik-cantik. Aku melihat mereka begitu bangga, bahagia, senang dan sangat nyaman. Mereka bangga dengan baju-baju yang melekat pada diri mereka.

Di lorong kota ini, Jakarta aku berjalan. Aku menemukan aku yang lain. Aku yang berbeda. Mereka sama seperti aku. Mereka serupa dengan aku, manusia. Langkah mereka berderap ke sana kemari. Ada yang duduk diam sembari menikmati rokok. Mereka juga berkumpul bersama, bercerita entah apa. 

Langkahku terus berderap. Kusaksikan wajah-wajah itu. Wajah yang memancarkan berbagai ekspresi khas manusia. Ada yang tersenyum, tertawa, sedih, cemas, menyerngit, gelisah, santai dan banyak lagi.

Mereka memiliki kesibukan masing-masing, sama seperti aku yang sibuk mengamati mereka. Tukang bajai, Sopir kenek, karyawan, pedagang kaki lima, pengemis, pelacur dan banyak lagi. Nanti pelan-pelan ku ceritakan kepadamu.

Oh iya kawan, sekarang kembali kepada baju itu. Justru itu, pertualanganku di Jakarta membuatku bertemu wajah-wajah yang serupa denganku. Mereka memakai baju seperti yang kumiliki meskipun berbeda. Tapi mereka nyaman, bahagia dan bangga. Itulah alasannya aku tak mau memaksa membuka baju mereka, merusakkan baju mereka, apalagi melukai diri mereka.

Aku tak mau membuka baju mereka, biar mereka tak telanjang. Karena itu yang kutakutkan. Takut telanjang?

Post a Comment for "Takut Telanjang"